Persyaratan Menjadi Pilot Pesawat Tempur, Ini Jawabannya?

Kita baru saja menyaksikan HUT TNI AU, di antaranya aksi penerbang tempur dalam formasi rapat dan menegangkan. Mereka juga melakukan terbang formasi yang indah.

Di kalangan penerbang tempur dikenal istilah leader, wingman, element leader, weapon instructor dan sebagainya.

Sebenarnya ada berapa kualifikasi dan apa pengertian dari masing-masing istilah itu dan apa syaratnya?

Seorang penerbang tempur mendapat kualifikasi wingman jika telah menyelesaikan konversi atau transisi di jenis pesawat yang menjadi penugasannya.

Selama menjalankan siklus pelatihan sampai jumlah jam tertentu, siswa transisi akan menjalani ujian tulis dan ujian terbang yang meliputi Normal Procedure, Emergency Procedure, General Flight, Instrument Flight, Aerobatic, Formation Flight, Night Flight, Air To Ground (Bomb, Rocket), Air To Air (Basic Fighter Maneuver, Air Combat Maneuver), Low Level Navigation dan diakhiri Surface Attack Tactic. Bila dinyatakan lulus ia berhak menyandang kualifikasi wingman.

Selanjutnya setelah sekian ratus jam menjadi wingman, penerbang tempur bisa dilatih menjadi element leader. Element leader harus mampu membawa flight kecil yang terdiri dari dua atau tiga pesawat.

Setelah menjalani latihan selanjutnya dilaksanakan ujian tertulis dan ujian terbang dengan memimpin flight dalam misi Air To Ground, Air To Air dan Surface Attack Tactic.

Sebagai element leader, seorang penerbang tempur setelah sekian waktu dikirim untuk mengikuti Sekolah Instruktur Penerbang, bisa di dalam atau di luar negeri. Setelah lulus sebagai Instructor Pilot diharuskan mengajar terlebih dahulu di sekolah penerbang.

Di sekolah penerbang inilah kemampuan mengajar diasah sebelum kembali ke skadron asalnya. Sekembali di skadron asal penerbang tempur ini harus menjalani refreshing selama beberapa waktu untuk mengembalikan skill terbang sebagai wingman dan element leader.

Bila skill sudah kembali maka ia akan menjalani pelatihan atau kursus menjadi instruktur di pesawatnya. Dia harus belajar memberi instruksi dari kursi belakang atau dari pesawat lain dengan materi pelatihan sama dengan saat mendapatkan kualifikasi wingman, hanya kali ini dari belakang dan dengan jam terbang atau jumlah sorti yang lebih sedikit.

Diharapkan sebagai instruktur ia bisa mengajar seorang siswa transisi menjadi berkualifikasi wingman. Setelah lulus menjadi instruktur maka selanjutnya si penerbang akan menjalani lagi pelatihan sebagai leader.

Sebagai leader harus mampu membawa sebuah flight yang terdiri dari dua atau lebih element flight dalam berbagai misi.

Ujian tertulis dan ujian terbang mirip saat ujian element leader, bedanya lebih banyak jumlah pesawat yang dipimpin dan misinya lebih rumit dengan tingkat kesulitan lebih tinggi. Setelah dinyatakan lulus akan menyandang kualifikasi leader.

Seorang leader bisa mengikuti sekolah Fighter Weapon Instructor yang melatih kemampuan mengenali lebih dalam taktik dan kemampuan pesawat serta persenjataan sendiri, menganalisa taktik dan kemampuan lawan, baik dalam flight mandiri atau dalam flight gabungan, dalam misi serangan darat atau pertempuran udara ke udara.

Kualifikasi ini ibaratnya menjadikan seorang Master in Air Combat Art & Science dan diharapkan bisa meningkatkan kemampuan tempur kesatuannya secara keseluruhan.

Jadi jalan cukup panjang untuk meraih kualifikasi tersebut. Banyak pengorbanan keringat dan airmata harus dikucurkan agar tidak berkorban darah di medan latihan dan pertempuran. Beny Adrian & Kolonel Pnb Agung Sasongkodjati

Sumber : /http://angkasa.grid.id/

Please follow and like us:

Leave a Reply